Ada dua harga dalam properti syariah. Bolehkah dalam Islam?

Masih banyak masyarakat awam yang ragu untuk membeli properti syariah. Mereka masih beranggapan bahwa harga properti syariah sama mahalnya dengan properti konvensional. Ada dua harga dalam properti syariah (maksudnya harga cash berbeda dengan harga kredit) menyebabkan akadnya jadi bathil karena terdapat dua harga dalam 1 akad. 

Kami akan mencoba menjawab pertanyaan – pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh masyarakat terhadap properti syariah.

Kenapa harga properti syariah ternyata sama aja mahal seperti properti konvensional?

Dalam properti syariah, yang dijadikan titik beratnya adalah proses akadnya yang sesuai dengan syariat Islam. Jadi, anggapan yang salah jika berfikir bahwa properti syariah lebih murah dari pada properti konvensional.

Contoh kasus :

Kasus properti konvensional. Sebuah rumah dijual dengan harga 500 juta, kemudian pembeli ingin membelinya dengan cara KPR biasa (konvensional) selama 10 tahun. Setelah membayar DP dan menyicil selama 10 tahun, lalu kemudian dihitung – hitung ternyata jumlah yang dibayarkan pembeli kepada Bank adalah 800 juta, padahal ketika akad jual beli harga yang disepakati adalah 500 juta. Ini yang tidak boleh dalam Islam karena terdapat dua harga dalam 1 akad.

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dua harga dalam satu jual beli.” (HR. Malik, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kasus properti syariah. Misal sebuah rumah dijual dengan harga 500 juta kalau cash, jika pembeli ingin membeli dengan kredit syariah selama 10 tahun maka harganya menjadi 800 juta bukan lagi 500 juta, ada dua harga dalam properti syariah tersebut. Harga berbeda karena ada perbedaan waktu, harga rumah tersebut tahun ini dengan 10 tahun mendatang tentu akan berbeda dan lebih tinggi. Dan jika pembeli dan penjual sepakat maka pada ketika akad harga yang digunakan adalah harga kredit yaitu 800 juta bukan 500 juta lagi. Ini boleh dalam Islam karena harga kesepakatan hanya 1 ketika akad.

Kesimpulannya, untuk masalah harga lebih murah atau lebih mahal itu relatif karena ada properti syariah yang lebih murah dari pada properti konvensional, begitupun sebaliknya. Tetapi yang menjadikan perbedaan yang mendasarnya adalah proses akadnya. Memang tidak sedikit masyarakat yang masih salah pemahamannya terhadap properti syariah

 

Kenapa ada dua harga dalam properti syariah (harga cash dengan kredit berbeda)? Bukanya tidak boleh ada 2 harga dalam 1 akad?

Ada sebagian muslim yang memahami bahwa harga jual beli kredit haruslah sama harganya dengan harga tunai. Mereka beranggapan jika harganya tidak sama, maka itu termasuk riba dan bathil akadnya. Pada dasarnya hutang piutang dalam Islam tidak dilarang, selama ada catatan hutang piutang antara penjual dan pembeli, tidak ada yang ditutupi, ditambahkan atau dikurangi. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran :

“Hai orang – orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya….” (QS Al Baqarah : 282)

Adapun jika terjadi perbedaan harga antara harga cash dengan harga kredit atau dua harga dalam properti syariah, mayoritas ulama fiqih menyatakan bolehnya menjual barang dengan harga lebih tinggi dari pada biasanya dengan alasan kredit.

Diriwayatkan dari Thawus, Hakam dan Hammad, mereka mengatakan hukumnya boleh seseorang mengatakan, “Saya menjual kepada kamu segini dengan kontan, dan segini dengan kredit”, lalu pembeli memilih salah satu diantantaranya. Ali bin Abi Thalib ra. berkata “Barangsiapa memberikan tawaran dua sistem pembayaran, yakni kontan dan tertunda, maka tentukanlah salah satunya sebelum transaksi.”

Dalil kebolehan adanya tambahan harga kredit dengan harga tunai adalah riwayat ad-Duruquthni dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash ;

“Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘ash untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki unta tunggangan, maka Nabi SAW memerintahkanku untuk membeli hewan tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya zakat. Maka Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash pun seperintah Rasulullah SAW membeli satu ekor unta dengan harga dua ekor unta dan beberapa ekor unta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat.” (HR Ad-Dharuquthni, Ahmad, Abu Dawud, dan sanadnya dihasankan oleh Al Albani)
Syu’aib al Arnauth menilai hadits ini hasan dengan seluruh sanadnya (lihat Masyru’ al Qonun al Buyu’ karya Syaikh Ziyad Ghazal yang terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Al Azhar Press dengan judul Buku Pintar Bisnis Syar’ie)

Syaikh Ziyad Ghazal juga menjelaskan, Wajh ad-dalalah (muatan makna) dalam hadits tersebut adalah bahwa Nabi SAW telah menambah harga barang tersebut karena faktor tenggat waktu. Ini tampak pada keberadaan hadits tersebut yang menyatakan tentang jual beli. Ucapan ‘Abdullah bin ‘Amru, “Nabi SAW pun memerintahkannya untuk membeli hewan tunggangan sampai (tenggat waktu) keluarnya orang yang membayar zakat. Maka ‘Abdullah membeli satu ekor unta (kontan) dengan kompensasi dua ekor unta (kredit saat unta zakat datang). Tampak dalam jual beli tersebut adanya tambahan harga karena faktor tenggat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kebolehan menambah harga karena faktor tenggat waktu pembayaran. Boleh adanya dua harga dalam properti syariah.

 

Properti syariah katanya tanpa bunga tapi kok ada margin?

Margin sangatlah berbeda dengan bunga, jika bunga adalah penambahan dalam hutang piutang sedangkan margin adalah keuntungan yang diperoleh dari proses jual – beli.

Contoh, saya membeli baju di pasar baru dengan niat untuk dijual kembali. Misal setelah diperhitungkan biaya beli baju, transport, dll munculah angka modal untuk membeli baju tersebut 50 ribu/pcs. Kemudian saya menjual kembali baju tersebut kepada orang lain dengan harga 75 ribu/pcs.
Apakah 25 ribu disebut riba? Bukan, 25 ribu itu adalah margin atau profit.
Berbeda jika saya meminjamkan uang 50 ribu kepada orang lain, kemudian orang tersebut membeli baju dengan uang tersebut dan berjanji akan membayarnya satu minggu kemudian, lalu saya meminta orang tersebut membayar 75 ribu karena ada tempo waktu satu minggu. Nah, selisih 25 ribu dalam kasus ini barulah disebut riba.

Siapa yg menentukan besar margin? Yang mementukannya penjual, dan bebas menentukan besarannya, selama pada saat transaksi terjadi kesepakatan dengan pembeli. Bahkan kalau saya mau jual kembali baju tersebut dengan harga 200 rb/pcs kalau pembeli sepakat, ya tidak jadi masalah. Sekarang apa gunanya berbisnis atau berdagang kalau tidak ada margin nya? Padahal 9 dari 10 pintu rezeki itu adalah berdagang.

Kembali ke kasus properti, dalam properti syariah itu tidak ada bunga adanya margin.
Dan kenapa harga cash dan harga kredit properti berbeda?
Contoh, rumah harga 500 juta jika dibeli dengan cara cash. Tapi jika harga kreditnya sama, yaitu 500 juta juga, dan kreditnya 5 tahun, maka developernya akan merugi. Sebab harga properti setiap tahun naik terus. Kenapa naik terus? Hukum ekonomi, manusianya bertambah terus, sedangkan lahan tidak bertambah, semakin banyak permintaan maka harga semakin tinggi.

Munculnya dua harga dalam properti syariah itu karena developer memperkirakan harga propertinya beberapa tahun ke depan akan meningkat, oleh karena itu harga kredit cenderung lebih mahal.

Yang jadi penentu halal atau haramnya tetap pada saat akad.
Kalau pembeli mau membeli rumah secara cash, ketika akad gunakan harga cash.
Kalau pembeli mau membeli rumah secara kredit, ketika akad gunakan harga kredit.
Jadi tidak ada 2 harga dalam 1 akad.
Sedangkan properti konvensional biasanya seperti ini, misal harga rumah 500 juta, KPR 10 tahun.
Ketika akad digunakanlah harga 500 juta. Tetapi ketika nyicil ke bank selama 10 tahun, ternyata setelah dihitung – hitung misal jadi 800 juta jumlah semuanya. Ini lah yang disebut 2 harga dalam 1 akad, akadnya 500 juta ketika lunas jadi 800 juta.
Wallahualam bishawab

HDKJMt2t56KAkGeD6gOMQU01a2FvmC-W4Ex_uoJM_ts